Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lembaga Hidup dan Peran Kader

Lembaga Hidup dan Peran Kader

Oleh: Muhammad Asriady

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah berkata, dalam kandungan ibulah tercipta Lembaga Hidup. Dalam rentang 40 hari, kita menjadi Nutfah (segumpal air), lalu Alaqah (segumpal darah), kemudian Mudghah (segumpal daging). Pada hari ke-120, ruh ditiupkan, dan saat itulah kita telah mengikrarkan syahadat pertama kita dengan ucapan Bala Syahidna di hadapan Allah. Sejak saat itu, telah ditentukan rezeki, jodoh, amal, dan ajal kita.


Sebagai kader Forum Lingkar Pena (FLP), kita pun telah melewati berbagai fase dalam kehidupan kepenulisan dan perjuangan dakwah bil qalam. Sebuah lembaga yang salah tidak akan menghasilkan kebenaran, maka tugas kita adalah menjaga, mengembangkan, dan menuangkan nilai-nilai kehidupan dalam karya serta aksi nyata. Hidup ini hanya sementara—singgah sejenak sebelum akhirnya kita pergi dan tak kembali. Oleh karena itu, jangan biarkan lembaga hanya menjadi nama tanpa makna, tetapi marilah kita berusaha menjadi insan yang paling bermanfaat (anfauhum linnas). 

Hari ini, teknologi seperti ChatGPT hadir darinya waspadalah! berhati-hatilah! agar pena kita tidak hancur seketika tanpa etika. 


Ijin berbagi Puisi

Pena dan Etika

Di ujung jemari, pena menari, 

Merangkai kata, menulis nurani. 

Namun di zaman serba cepat ini, 

Teknologi hadir, menemani atau mengganti? 

 

ChatGPT menjawab tanpa ragu, 

Mengolah kata dalam sekejap waktu. 

Namun di balik layar yang membisu, 

Akankah pena tetap berpadu? 

 

Hati-hati, wahai penjaga aksara, 

Jangan biarkan pena kehilangan sukma. 

Sebab tinta yang lahir tanpa etika, 

Hanya akan menjadi racun kata. 

 

Menulis bukan sekadar menata huruf, 

Tapi menanam makna yang terus hidup. 

Bukan sekadar bicara tentang dunia, 

Namun menjaga nurani agar tetap mulia. 

 

Maka genggamlah pena dengan bijaksana, 

Gunakan akal, jagalah rasa. 

Agar kata yang lahir dari sukma, 

Menjadi cahaya, bukan senjata. 

 

Momentum Berbuka Puasa: Kembali ke Rumah yang Dirindukan 

Pernahkah kita merasa rindu akan rumah? Tidak hanya rumah dalam arti fisik, tetapi juga rumah dalam bentuk ukhuwah dan kebersamaan. Bulan suci Ramadan menghadirkan momen spesial, di mana berbuka puasa bersama menjadi ajang menyambung tali silaturahmi, bertukar cerita, mengenang perjalanan, serta merajut kembali semangat yang mungkin sempat pudar. 

Selama 26 tahun, FLP telah menyatukan para kader dalam dinamika organisasi. Setelah melewati berbagai fase, baik sebagai kader aktif maupun pasif baik setelah menjadi demisioner ataukah purna yang seolah karyanya ikut punah, kita tetaplah keluarga besar FLP. Maka, kegiatan buka puasa bersama kader FLP Sulawesi Selatan adalah kesempatan berharga untuk kembali

Menjaga Silaturahmi, Karena ukhuwah yang dijaga dengan baik akan melahirkan kekuatan besar dalam perjuangan. 

Hadir Menumbuhkan Semangat Berkarya, Sebagai penulis, kita butuh inspirasi dan kebersamaan untuk tetap menyalakan api kreativitas. Teguklah kopi tanpa kafein : Ketika Otak Perlu Inspirasi.

Mari Merefleksi Perjalanan, Sejauh mana kita telah berkontribusi untuk umat melalui pena? Karena Kita bukan anak raja maka Menulislah.

Ayo Meneguhkan Komitmen, Agar tetap menjadi bagian dari kebaikan, menulis dengan hati, dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran, dalam kebenaran pasti bertabur Kebaikan.

 

Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk semakin kuat dalam berkarya dan berdakwah melalui tulisan. Karena pena kita bukan hanya milik kita, tetapi juga milik peradaban. Menulislah sebab menulis itu napas peradaban. 


Selamat berbuka puasa dan berjumpa kembali dalam kehangatan ukhuwah FLP Sulawesi Selatan

 


Posting Komentar untuk "Lembaga Hidup dan Peran Kader"